Seorang kawan pernah bercerita sedikit tentang kisah cintanya dengan istrinya, sebut saja Kang Cecep. Tentang tutur kata dan bahasanya yang lembut menyejukkan. Tentang kecantikan dan kebaikan hatinya serta niatnya untuk lebih mendekatkan diri kepada yang Empunya, Sang Kholik.
Satu hal yang mengganjal di hati Kang Cecep, ia, si cantik itu, belum memenuhi kewajibannya sebagai muslimah: menutup seluruh auratnya. Kegundahan Kang Cecep pun kian mendera manakala hasratnya untuk melengkapi separuh agamanya kian memuncak, namun ia belum berani menyampaikan ganjalan hatinya, masih ada hijab antara hati dengan akalnya. Masih ada ‘takut’ yang menghinggapi kepalanya, takut kehilangan. “Ah andai saja dia mengerti”, begitu selalu angan-angannya.
Sampai pada satu ketika, entah bagaimana Allah menitipkan keberanian dalam dadanya untuk beramar makruf, menegakkan yang haq: memuliakan perempuan. Allah memantapkan hatinya, membukakan jalan syaraf-syaraf dikepalanya. Seraya mengusap basah air mata dalam sujud malamnya, ia pun menguatkan niat. Apatah lagi ini calon ibu dari anak-anaknya. Tak rela ia menitipkan keturunannya pada perempuan yang tidak mengerti pada kewajibannya.
Dengan modal istikharah ba’da duha, berujarlah ia pada sang kekasih di beranda rumah Pak Marbot, calon mertuanya. “Neng… Kumaha upami salira ngangge hijab, panginten Allah langkung nyaah ka deui eneng”. (Dik… Gimana kalo adik pake jilbab, kayaknya Allah bakal lebih sayang lagi sama adik).
Kang Cecep pun memepertajam pendengarannya kalau-kalau ia tidak mendengar jawaban lembut nan halus jantung hatinya. Namun tak ada “muhun kang” atau pun “iya kang” yang diucapkan si cantik. Tak pula anggukan kepala tanda persetujuannya. Lebih dalam Kang Cecep memfokuskan pendengarannya, tapi tetap tak terdengar satu huruf pun, apalagi kata”alim ah” atau “gak mau ah” yang ia takutkan keluar dari bibir tipis si cantik. Dan tercekat tenggorokannya, tak lagi ia mampu meneruskan kalimat-kalimat nasehat yang sudah ia siapkan. Menatap rambut lembut ikal mayang yang memahkotai perempuan idamannya, lalu menunduk dan memohon meminta kepada-Nya. Hanya kepada-Nya.
Berhari-hari dan berminggu-minggu ia tak berani menekan tuts hape untuk sekedar mengirimkan pesan kegundahan hatinya. Atau mencari tahu kabar kesehatan si dia, ah. Ia hanya mengirimkan pesan kepada Yang Maha Membolak-balikan Hati. Ia menekan tuts-tuts buku jarinya dengan kalimat-kalimat agung, memohon keridhaan-Nya, untuk memilih dia.
Kabarpun segera menyebar seantero kampung Pasawahan tentang kecantikan Aidha yang mencuat begitu saja. Aidha gadis biasa, telah menggeser kedudukan Saima dalam hati para pemuda Pasawahan. Saima yang selama ini menjadi kembang desa incaran para lelaki pencari istri. Aidha kini menjadi dambaan suntingan. Dan rumah Pak Marbot pun jadi lebih hangat dari biasanya. Pasalnya, ada saja tiap harinya orang bertandang untuk sekedar bersilaturahmi atau ngobrol kesana-kemari, sambil mencuri-curi pandang tentunya. Tak sedikit yang berterus terang meminang Aidha untuk dijadikan istrinya atau meminang untuk anaknya atau untuk kerabatnya. Malah ada yang rela meminang untuk suaminya. Subhanllah, ada yang berubah di Pasawahan.
Dan angin menyampaikan kabar itu ke telinga Kang Cecep yang tengah membasahi sajadah dengan air matanya di musholla pinggir desa. “Pasawahan berubah”, begitu kabar yang diterimanya. “Apa yang berubah?”, ia bertanya kepada si pembawa berita.
“Gara-gara Aidha…”, tak sempat berita berlanjut ia segera menukas, “Ada apa dengan Aidha?”, berdegup dadanya menahan gejolak.
“Gara-gara Aidha, sekarang hampir semua gadis Pasawahan memakai jilbab.
Hanya sujud yang bisa dilakukannya demi mendengar angin itu bercerita. Maka segera ia mengayuh sepeda be em ex-nya yang ia terima dari ayahnya waktu ia disunat kelas empat madrasah ibtidaiyah, setingkat SD. Di pertigaan menuju rumah Pak Marbot, ia berhenti dan merogoh saku celananya. Sejenak ia serius menatapi baris-baris pada hape semata wayangnya. 149 karakter telah ia ketikan, to: aidha, begitu yang tertulis pada baris atas layar monokrom itu. Ia merenung sejenak, sekonyong-konyong ia memasukan hape kedalam sakunya setelah ia menekan tombol cancel. Lalu kembali melajukan be em ex-nya perlahan ke arah rumah Pak Marbot.
Seratus meter lagi, jantungnya berdebar, tangannya sedikit gemetar. Ia sudah melihat gerbang rumahnya. Dug serasa berhenti jantungnya berdegup. Seorang bocah keluar dari gerbang itu sambil bersungut-sungut.
“Ayo kak cepeten. Adi mau perlemen”, begitu katanya sambil menarik lengan gadis berkerudung hijau muda yang menutupi seluruh kepala sampai ke dadanya, serasi dengan rok hijau tua yang lebar dan panjangnya hampir menutupi mata kakinya yang berkaos kaki putih. Sejenak si gadis melirik Kang Cecep lalu segera mengalihkan padangan pada bocah mungil itu dan mengajaknya berlalu melewati be em ex Kang Cecep.
Semakin banyak angin bercerita pada Kang Cecep tentang Aidha dan Pasawahan yang berubah. Juga tentang banyaknya peminang yang silih berganti mendatangi Pak Marbot yang semakin membuat hatinya gulana. Ia meminta ketentraman hati pada Yang Maha Agung, tapi malah semakin bergetar hatinya dan semakin bergolak geloranya. Astagfirallah, kalimat yang terus-menerus diulangnya. Akhirnya tak dapat lagi ia membendung gelegak didadanya. Ba’da isya malam itu ia beristikharah lalu mendatangi ustadz Ramli yang saban ba’da magrib membimbingnya memahami ayat-ayat-Nya yang Agung. Ia menyampaikan hasratnya dan meminta pendapat mursyidnya itu.
“Luruskan niatmu karena Allah, dik. Barokallah.”, begitu doa yang ia dengar dari Ustdz Ramli. Dan segera ia meluncur ke rumah Pak Marbot, bismillah.
Duduk menunduk sambil menatap teh manis yang disediakan khadimah rumah tangga Pak Marbot. “Bapak sedang di ruang kerja, akang disuruh menunggu sebentar katanya”, begitu kalimat-kalimat yang ia dengar sebelum akhirnya ia merenung sambil menguat-nguatkan hatinya. Hingga Pak Marbot muncul dari ruang tengah dan menyapa dengan keramahan khasnya, Kang Cecep hanya sejenak mengangkat kepala kemudian menunduk lagi.
“Sepertinya ada hal serius nih Nak Cecep”, Pak Marbot langsung menembak sasaran setelah sedikit berbasa-basi menanyakan kabar Kang Cecep yang sudah beberapa mingggu tidak memperlihatkan wujudnya di rumah Pak Marbot.
“Eeeng… anu, Pak. Ehm”, Kang Cecep mendehem untuk meredakan ketegangan urat tenggorokannya.
“Saya berniat serius pak”.
“Serius bagaimana?”, Pak Marbot pura-pura tidak memahami misi kata-kata Kang Cecep.
“Eee saya serius untuk memperistri Aidha, Pak. Saya berharap Bapak bisa menerima pinangan saya. Semoga Aidha memang jodoh saya.”, kini lebih lancar kata-katanya.
Pak Marbot menarik nafas dalam kemudian mengangkan cangkir besar di hadapannya dan mengalirkan air putih ke tenggorokannya.
“Nak Cecep”, kalimatnya terhenti sejenak.
“Beberapa minggu belakangan ini banyak orang meminta hal yang sama dengan yang Nak Cecep katakan barusan. Sampai-sampai bapak merasa kewalahan. Tapi Bapak tidak bisa mengabulkan permohonan mereka karena Bapak sudah terlanjur berharap pada pemuda yang Bapak yakini bisa menjadi imam untuk Aidha”. Pak marbot berhenti lagi sementara Kang Cecep tetap menunduk, berdoa dan berharap.
“Sampai kemarin malam Bapak masih bisa menolak permohonan Peminang. Tapi..”, Pak Marbot menggantungkan kalimatnya dan Cecep cemas.
“Tapi tadi siang Bapak tidak bisa menolak lagi nak”. Kang Cecep terhenyak dan mengangkat kepalanya.
“Tadi siang Bapak menerima pinangan untuk Aidha, nak.”
Serasa berhenti nafasnya dan melemah seluruh urat syarafnya. Ia terkulai, lemas. Ia ingin marah tapi bukan marah pada Allah. Ia ingin sekali ikhlas menerima kenyataan, tapi terlalu berat rasanya. Karena ia tahu betul, bahwa seorang gadis tidak boleh dipinang setelah ia dalam pinangan orang lain hingga pinangan itu terputus. Ia ingin menyesali keterlambatannya, namun ia tahu menyesali takdir hanya akan mengundang murka Allah.
“Kalau boleh saya tahu, siapakah calon imam untu Aidha itu, Pak?”, tanyanya terbata-bata.
Pak Marbot berdiri lalu menghampiri Kang Cecep. Ia mengangkat kedua bahu anak muda yang terlihat hampa itu untuk berdiri.
“Ayahmu, nak”, katanya.
——————————-
Jakarta KC-1103’09