Linux CLI Jadwal Sholat

25 11 2009

Kira-kira setahun yang lalu saya membuat shell script untuk mengambil jadwal sholat dari www.republika.co.id. Script ini saya buat karena saya kurang puas dengan software yg sudah ada seperti minbar di linux/win atau beberapa software untuk handphone. Software2 itu mengharuskan user memilih cara/dasar perhitungan waktu sholat yang akan dipakai, misalnya: Egyptian General Authority of Survey, Muslim Word Ligaue atau Ummul Qura Saudi Arabia. Beberapa kali  saya coba setingan itu, saya masih merasa belum sreg karena di waktu-waktu tertentu kurang match dengan jadwal sholat di tanah air, khusunya Jakarta (dengan refernsi republika.co.id).

Untuk lebih singkatnya silahkan copy paste script berikut ini dan simpan dalam file jadwal-sholat.sh

#!/bin/bash
# Shell Script untuk ngambil jadwal sholat dari www.republika.co,id
# —————————————————————————–
# Copyright (c) 2008 Kay Chaqiel : chaqiel.wordpress.com
# Lecense : free
# \————————————————————– ————-

wget -qO- http://republika.co.id | cat | grep Subuh -A 18 | sed -e ‘s/<div>//g’ -e ‘s/<div>//g’ -e ‘s/<div>//g’  -e ‘s/<\/div>//g’ -e ‘s/\/>//g’ -e ‘s/>//g’

Kemudian rubah attribut filenya menjadi executable.

chmod +x jadwal-sholat.sh

Jalankan dengan perintah

sh jadwal-sholat.sh

Tunggu beberapa saat (tergantung link internet anda), dan akan muncul hasil:

sudiana@kuya:/~$ sh jadwalsholat.sh
Subuh
04:06:06

Dhuhur
11:43:20

Ashar
15:06:51

Magrib
17:56:53

Isya
19:11:35

Script ini akan berjalan dengan mulus bila tida ada perubahan format tag halaman utama dari www.republika.co.id. Dan alhamdulillah setelah setahun ini masih mulus.

Semoga bermanfaat.





Menghapus Garis di MS Word 2003

14 05 2009

Pernah membuat garis single atau double di MS Word dengan cara mengetik “—” atau “===” (tanpa kutip) lalu menekan Enter?
Munkin anda pernah dipusingkan untuk menghapus garis itu, sama seperti saya.

Mudah-mudahan tips berikut bisa menghilangkan rasa penasaran itu.

1. Klik garis yang sudah anda buat

TipsGaris
2. Masuk ke menu File>Page Setup

TipsPageSetup
3. Klik tab Layout
4. Klik tombol Border

TipsBorderShading
5. Klik tab Page Border
6. Pilih None.
7. Selesai

Kemudahan membuat garis ini ternyata tidak semudah menghapusnya, kayak mo quit jadi member kartu kredit :)

Sumber : http://www.inowebmarketing.com/2008/01/removing-the-hr-line-from-word/





Calon

12 03 2009

Seorang kawan pernah bercerita sedikit tentang kisah cintanya dengan istrinya, sebut saja Kang Cecep. Tentang tutur kata dan bahasanya yang lembut menyejukkan. Tentang kecantikan dan kebaikan hatinya serta niatnya untuk lebih mendekatkan diri kepada yang Empunya, Sang Kholik.

Satu hal yang mengganjal di hati Kang Cecep, ia, si cantik itu, belum memenuhi kewajibannya sebagai muslimah: menutup seluruh auratnya. Kegundahan Kang Cecep pun kian mendera manakala hasratnya untuk melengkapi separuh agamanya kian memuncak, namun ia belum berani menyampaikan ganjalan hatinya, masih ada hijab antara hati dengan akalnya. Masih ada ‘takut’ yang menghinggapi kepalanya, takut kehilangan. “Ah andai saja dia mengerti”, begitu selalu angan-angannya.

Sampai pada satu ketika, entah bagaimana Allah menitipkan keberanian dalam dadanya untuk beramar makruf, menegakkan yang haq: memuliakan perempuan. Allah memantapkan hatinya, membukakan jalan syaraf-syaraf dikepalanya. Seraya mengusap basah air mata dalam sujud malamnya, ia pun menguatkan niat. Apatah lagi ini calon ibu dari anak-anaknya. Tak rela ia menitipkan keturunannya pada perempuan yang tidak mengerti pada kewajibannya.

Dengan modal istikharah ba’da duha, berujarlah ia pada sang kekasih di beranda rumah Pak Marbot, calon mertuanya. “Neng… Kumaha upami salira ngangge hijab, panginten Allah langkung nyaah ka deui eneng”. (Dik… Gimana kalo adik pake jilbab, kayaknya Allah bakal lebih sayang lagi sama adik).

Kang Cecep pun memepertajam pendengarannya kalau-kalau ia tidak mendengar jawaban lembut nan halus jantung hatinya. Namun tak ada “muhun kang” atau pun “iya kang” yang diucapkan si cantik. Tak pula anggukan kepala tanda persetujuannya. Lebih dalam Kang Cecep memfokuskan pendengarannya, tapi tetap tak terdengar satu huruf pun, apalagi kata”alim ah” atau “gak mau ah” yang ia takutkan keluar dari bibir tipis si cantik. Dan tercekat tenggorokannya, tak lagi ia mampu meneruskan kalimat-kalimat nasehat yang sudah ia siapkan. Menatap rambut lembut ikal mayang yang memahkotai perempuan idamannya, lalu menunduk dan memohon meminta kepada-Nya. Hanya kepada-Nya.

Berhari-hari dan berminggu-minggu ia tak berani menekan tuts hape untuk sekedar mengirimkan pesan kegundahan hatinya. Atau mencari tahu kabar kesehatan si dia, ah. Ia hanya mengirimkan pesan kepada Yang Maha Membolak-balikan Hati. Ia menekan tuts-tuts buku jarinya dengan kalimat-kalimat agung, memohon keridhaan-Nya, untuk memilih dia.

Kabarpun segera menyebar seantero kampung Pasawahan tentang kecantikan Aidha yang mencuat begitu saja. Aidha gadis biasa, telah menggeser kedudukan Saima dalam hati para pemuda Pasawahan. Saima yang selama ini menjadi kembang desa incaran para lelaki pencari istri. Aidha kini menjadi dambaan suntingan. Dan rumah Pak Marbot pun jadi lebih hangat dari biasanya. Pasalnya, ada saja tiap harinya orang bertandang untuk sekedar bersilaturahmi atau ngobrol kesana-kemari, sambil mencuri-curi pandang tentunya. Tak sedikit yang berterus terang meminang Aidha untuk dijadikan istrinya atau meminang untuk anaknya atau untuk kerabatnya. Malah ada yang rela meminang untuk suaminya. Subhanllah, ada yang berubah di Pasawahan.

Dan angin menyampaikan kabar itu ke telinga Kang Cecep yang tengah membasahi sajadah dengan air matanya di musholla pinggir desa. “Pasawahan berubah”, begitu kabar yang diterimanya. “Apa yang berubah?”, ia bertanya kepada si pembawa berita.
“Gara-gara Aidha…”, tak sempat berita berlanjut ia segera menukas, “Ada apa dengan Aidha?”, berdegup dadanya menahan gejolak.
“Gara-gara Aidha, sekarang hampir semua gadis Pasawahan memakai jilbab.

Hanya sujud yang bisa dilakukannya demi mendengar angin itu bercerita. Maka segera ia mengayuh sepeda be em ex-nya yang ia terima dari ayahnya waktu ia disunat kelas empat madrasah ibtidaiyah, setingkat SD. Di pertigaan menuju rumah Pak Marbot, ia berhenti dan merogoh saku celananya. Sejenak ia serius menatapi baris-baris pada hape semata wayangnya. 149 karakter telah ia ketikan, to: aidha, begitu yang tertulis pada baris atas layar monokrom itu. Ia merenung sejenak, sekonyong-konyong ia memasukan hape kedalam sakunya setelah ia menekan tombol cancel. Lalu kembali melajukan be em ex-nya perlahan ke arah rumah Pak Marbot.

Seratus meter lagi, jantungnya berdebar, tangannya sedikit gemetar. Ia sudah melihat gerbang rumahnya. Dug serasa berhenti jantungnya berdegup. Seorang bocah keluar dari gerbang itu sambil bersungut-sungut.
“Ayo kak cepeten. Adi mau perlemen”, begitu katanya sambil menarik lengan gadis berkerudung hijau muda yang menutupi seluruh kepala sampai ke dadanya, serasi dengan rok hijau tua yang lebar dan panjangnya hampir menutupi mata kakinya yang berkaos kaki putih. Sejenak si gadis melirik Kang Cecep lalu segera mengalihkan padangan pada bocah mungil itu dan mengajaknya berlalu melewati be em ex Kang Cecep.

Semakin banyak angin bercerita pada Kang Cecep tentang Aidha dan Pasawahan yang berubah. Juga tentang banyaknya peminang yang silih berganti mendatangi Pak Marbot yang semakin membuat hatinya gulana. Ia meminta ketentraman hati pada Yang Maha Agung, tapi malah semakin bergetar hatinya dan semakin bergolak geloranya. Astagfirallah, kalimat yang terus-menerus diulangnya. Akhirnya tak dapat lagi ia membendung gelegak didadanya. Ba’da isya malam itu ia beristikharah lalu mendatangi ustadz Ramli yang saban ba’da magrib membimbingnya memahami ayat-ayat-Nya yang Agung. Ia menyampaikan hasratnya dan meminta pendapat mursyidnya itu.
“Luruskan niatmu karena Allah, dik. Barokallah.”, begitu doa yang ia dengar dari Ustdz Ramli. Dan segera ia meluncur ke rumah Pak Marbot, bismillah.

Duduk menunduk sambil menatap teh manis yang disediakan khadimah rumah tangga Pak Marbot. “Bapak sedang di ruang kerja, akang disuruh menunggu sebentar katanya”, begitu kalimat-kalimat yang ia dengar sebelum akhirnya ia merenung sambil menguat-nguatkan hatinya. Hingga Pak Marbot muncul dari ruang tengah dan menyapa dengan keramahan khasnya, Kang Cecep hanya sejenak mengangkat kepala kemudian menunduk lagi.

“Sepertinya ada hal serius nih Nak Cecep”, Pak Marbot langsung menembak sasaran setelah sedikit berbasa-basi menanyakan kabar Kang Cecep yang sudah beberapa mingggu tidak memperlihatkan wujudnya di rumah Pak Marbot.
“Eeeng… anu, Pak. Ehm”, Kang Cecep mendehem untuk meredakan ketegangan urat tenggorokannya.
“Saya berniat serius pak”.
“Serius bagaimana?”, Pak Marbot pura-pura tidak memahami misi kata-kata Kang Cecep.
“Eee saya serius untuk memperistri Aidha, Pak. Saya berharap Bapak bisa menerima pinangan saya. Semoga Aidha memang jodoh saya.”, kini lebih lancar kata-katanya.
Pak Marbot menarik nafas dalam kemudian mengangkan cangkir besar di hadapannya dan mengalirkan air putih ke tenggorokannya.
“Nak Cecep”, kalimatnya terhenti sejenak.
“Beberapa minggu belakangan ini banyak orang meminta hal yang sama dengan yang Nak Cecep katakan barusan. Sampai-sampai bapak merasa kewalahan. Tapi Bapak tidak bisa mengabulkan permohonan mereka karena Bapak sudah terlanjur berharap pada pemuda yang Bapak yakini bisa menjadi imam untuk Aidha”. Pak marbot berhenti lagi sementara Kang Cecep tetap menunduk, berdoa dan berharap.
“Sampai kemarin malam Bapak masih bisa menolak permohonan Peminang. Tapi..”, Pak Marbot menggantungkan kalimatnya dan Cecep cemas.
“Tapi tadi siang Bapak tidak bisa menolak lagi nak”. Kang Cecep terhenyak dan mengangkat kepalanya.
“Tadi siang Bapak menerima pinangan untuk Aidha, nak.”
Serasa berhenti nafasnya dan melemah seluruh urat syarafnya. Ia terkulai, lemas. Ia ingin marah tapi bukan marah pada Allah. Ia ingin sekali ikhlas menerima kenyataan, tapi terlalu berat rasanya. Karena ia tahu betul, bahwa seorang gadis tidak boleh dipinang setelah ia dalam pinangan orang lain hingga pinangan itu terputus. Ia ingin menyesali keterlambatannya, namun ia tahu menyesali takdir hanya akan mengundang murka Allah.
“Kalau boleh saya tahu, siapakah calon imam untu Aidha itu, Pak?”, tanyanya terbata-bata.
Pak Marbot berdiri lalu menghampiri Kang Cecep. Ia mengangkat kedua bahu anak muda yang terlihat hampa itu untuk berdiri.
“Ayahmu, nak”, katanya.

——————————-
Jakarta KC-1103’09





Tidak Sama Beriman dan Fasiq

6 03 2009

18. Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.

19. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan.

20. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.”

QS. 32:17-19

——————————————
Khatib jum’at musholla Wisma Bakrie I
Jum`at, 9 Rabi`ul Awwal 1430/ 6 Maret 2009





Cemberutnya Nana

20 02 2009

Nanaku,
adalah bulan yang bisa kau lihat
dia melenggang anggun, melembutkan kerasnya sinar mentari
menerangi bagian demi bagian bumi





CInta Katanya

19 08 2008

KATANYA: *)

Cinta Sebenarnya itu Tanpa Syarat

Iklas tanpa pamrih

Jika itu cinta …

Jangan diminta …

Berilah tanpa syarat …

Itu Cinta …..

KUBILANG: **)
jika itu cinta
selamanya ia akan ada
karena ia adalah anugrahNya
tak peduli apakah ia disisinya atau tak disisinya
cinta akan memelihara kesetiaannya, tanpa syarat.

*)   Dari imel berantai tentang kisah cinta kakek-nenek dari china yang menghebohkan.

**) Nambahin





Dada Lima Setengah Bulan

26 11 2007

Dada sekarang sudah lima bulan setengah. Alhamdulilah, dada -anak kami- begitu lucu dan lincah. Sungguh benar kalau ada yang bilang, “secapek apa pun kerja cari nafkah, tapi kalo udah nyampe rumah mendapati wajah polos nan lucu, hilanglah semua lelah…”

Dada 5 1/2 bulanAda hal yang unik menurutku soal si dada ini. Akhir-akhir ini setiap kali aku hendak berangkat kerja, dia ga mau dicium atau didekati, selalu mlengos. Mungkin itu bentuk protesnya karena bakal seharian dia ga becanda sama abinya. :)

Sejak dada bisa tengkurep, sekitar satu bulan yang lalu, kami bedua jadi was-was,takut jatuh dari tempat tidur. Sering kali ketika aku terbangun, dia lagi asyik main sendiri dengan tengkurep dipinggir ranjang…! Alhamdullah, sampai hari ini masih aman :)





SE M600 dan Linux

20 11 2007

Pinguin M600Setelah googling di alam maya dan lirik kanan kiri di alam nyata, hati ini tertarik pada si soner M600. Cerita punya cerita, ternyata si emsixhundred ini sudah tidak diproduksi lagi oleh SE. Sempet ragu-ragu juga memilih barang ini karena di diskontinyu produksinya. Tapi apalah dikata kalo udah suka. Dan ternyata stoknya masih ada di beberapa gerai henpon di Mall Ambasador, bahkan di Glodokshop dan StudioHP pun sampai tulisan ini dipublish masih memajangnya dengan harga sekitar 1 juta 870 ribuan, beda-beda dikit. Aku sendiri dapat harga 1.815.000 rupiah.

Sejak PC di rumah hijrah ke linux, maka yang pertama-tama dicari adalah artikel tentang koneksi linux dengan M600. Didapatlah beberapa link ini.

Untuk menkoneksikan dengan distro debian, tapi mungkin juga bisa untuk distro lain yang sejenis, misalnya; ubuntu, knopix, gentoo, opensuze, xandros dan sejenisnya.

http://www.klabs.be/~fpiat/linux/debian/SonyEricsson_M600i_on_Linux_Debian_Etch.html#M600iUSB

Yang ini mirip-mirip tapi untuk K700. Sebelumnya aku pake SE-K700i, and this link info works fine on it. Jadi ketahuan deh gambar pinguin-m600 nya nyontek darimana :) , btw ngeditnya pekki gimp 2.0.

http://thpinfo.com/2006/k700i-linux/

Aku sendiri baru nyoba koneksi dengan PclinuxOS 2007 dan baru sebatas file transfer dari PC ke memory external-nya emsixhundred M2 yang cuma 64MB (bawaan pabrik). Tak perlu instal ini-itu, cukup koneksikan M600 dengan PCLOS melalui kabel USB bawaannya M600. And its opened just like flashdisk.

So far baru sampe sini exploringnya nih. Mudah-mudahan bisa posting lebih lanjut pada pengalaman-pengalaman berikutnya.





DVD/CD Repo PCLinuxOS

23 10 2007

Alhamdulillah… akhirnya aku merdeka dari rasa bersalah atas windoz bajakan yang setia menemani pc di rumah. Dengan tekad kuat, aku putuskan untuk menggunakan open source OS dan applikasinya.

Setelah negtest dan nyoba distro red hat, slackware, fedora, ubuntu… akhirnya pilihan jatuh pada PCLinuxOX/PCLOS. Distro ini buat aku amat sangat simpel, gak jauh-amat cara mengoperasikannya dari windoz. Diatas,

- AMD Sempron 2800+
- DDR 512MB
- GE FX3000

si PCLOS berjalan lancar, aman dan cepat nyaris tanpa hambatan. Sayang, aku ga bisa nyobain Beryl or Compiz-nya, katanya tidak support. Ah mungkin ada yang belom bener settingannya. Ada yang bisa bantu ga ya…

Satu problemo yang paling nyebelin adalah koneksi internet di rumahku ga pernah beres, maklum cuma ngandelin telkomnet instan, koneksinya parah. Akhirnya untuk urusan install paket baru aku ngandelin bandwidth di kantor. Setelah ngunduh repo-nya PCLOS dari sekitar 10Gb-an dari http://kambing.ui.edu/pclinuxos/apt/pclinuxos/ selama kurang lebih tiga hari, langsung aku bakar dalam tiga DVD dan berharap-harap cemas untuk bisa nambah aplikasi si pclos di rumah.

Begitu nyampe rumah langsung aku coba “Add cd-rom” dari Synaptic dan twew wew… keluar kotak dengan tulisan “E:could not mount CD-ROM”. Bolak-balik masukin keluarin DVD, tetep aja begitu. Padahal isi DVD bisa dikorek oleh Konqueror dalam folder “/media/hdc/DVD1/”.

Setelah muter-muter ingatan, akhirnya inget cara merubah mounting otomatis dari file /etc/fstab. Langsung aja aku login pake root.

[dada]$>su
ketik password root
[dada]#>kwrite /etc/fstab

.
.
.
# /dev/cdrom /mnt/cdrom auto ro,noauto,user,exec 0 0

Ternyata dari barisan paling akhir file fstab itu mounting CDROMnya ditandai pager (#).

setelah si pager dibuang,

[dada]#>mount -a

Tunggu sejenak.
Restart Synaptic.
Masuk lagi ke “Add CD ROM”.

Jreng… akhirnya dia minta DVD-DVD repo itu di masukan satu per satu. Maka senyum pun tersungging lagi dari bibir ini, cukup menyenangkan kalau usaha kita membuahkan hasil. Aku coba install Audacity, berhasil. Oh… udah jam 22.00, istirahat dulu ah.

Sekali lagi, kepada Bill Gate$, aku mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahanku selama ini. Dan kepada saudara-saudaraku ummat muslim, taqoballohu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum.





TELEPON

22 10 2007

kemarin dulu aku menelpon
menanyakan langsung apa kabarnya
namun hanya desah nafasnya yang kudengar
mungkin ia marah, tapi aku tahu pasti ia bukanlah pemarah

kuulang lagi menelpon
kudengar nafasnya makin jelas terasa
belum lagi suara merdunya
hanya nafasnya saja lebih lagi terasa

kini aku ingin menelpon
hanya keinginan yang terus saja berdengung di kuping
tapi tak pernah kuangkat gagangnya
ya Rabb, ijinkan aku mencintainya
setelah cintaku pada-Mu yang tak terkira
kumpulkan aku dengan golongannya

cilebut 130207
-kc-








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.