MASIH SAJA

22 10 2007

hari kedelapan,
tapi masih saja ada harapan
setelah sekian bulan bersemayam
oh bukan bertahun terendap dalam bawah ingatan
terendus setelah hari kedelapan meski demikian,
pagar-Nya terus membentengi menjaga kesucian pemberian-Nya

semoga ia memang suci
bukan naluri hati yang ingin mencicipi
bukan hasrat yang berlumur mudharat

tiadalah ia bila bukan karena-Nya
ya Allah… tunjukilah


cilebut 130207 -kc-





KAVLING

22 10 2007

Tentang kavling yang sudah kusediakan itu
pondasinya tak pernah pudar dimakan usia walau berhitung hingga limabelas
tidak
beberapa kavling memang ada disana, ada yang hilang begitu saja
tertutup onak dan eurih
adakalanya hanya master plan dalam kertas putih bercorak dan bernoda

rumah mungil yang ini, kutempati dengan segenap hati meninggikannya
kucari kalam Illahi dan kuramu dengan semen kesungguhan
pada pondasi iman yang kurawat berkelanjutan

tentang kavling itu, masih terlihat pondasi kokohnya.
semoga karunia Allah itu atas dasar cinta pada-Nya

cilebut 130207
-kc-





Belajar Ngaji

28 09 2007

Hidup ini memang singkat. Sangat singkat. Lihat saja, masih basah ingatan dibenakku waktu aku kecil dulu kakak sepupuku mengajariku mengaji –lebih tepatnya belajar membaca alqur’an–, hari ini buah hatiku sudah lima setengah bulan tinggal di bumi Allah. Dan aku harus siap mengajarinya mengaji dua atau tiga tahun lagi.

kaligrafi01Dulu itu, cara kakakku mengajar sangat keras. Setiap selesai sholat maghrib, aku harus sudah siap dengan tuturutan (sekarang istilahnya buku iqro). Diruang tamu rumah kakekku yang dindingnya terbuat tembok bata sebatas pinggang dan keatasnya dari bilik kayu. Di bawah pancaran sinar petromak aku siap dengan tutunjuk (potongan lidi yang digunakan untuk menunjuk huruf-huruf Alqur’an yang sedang dibaca) ditangan kanan. Sementara tangan kiriku harus selalu di atas meja. Bila aku salah ketika membaca, maka sebatang lidi akan mendarat mulus di jari tangan kiri, prat… Dan itu berulang setiap kali aku salah membaca kalimat-kalimat Alqur’an dalam tuturutan. Tak terasa air matapun berlinang, bukan hanya karena sakit di jari tangan tapi juga karena tekad ingin cepat bisa membaca Alqur’an.

Alhamdulillah, berkat ketelatenan kakak sepupuku itu akhirnya aku lancar membaca Alqur’an. Tibalah saatnya aku bergabung dengan kawan-kawanku yang lain, yang juga sudah bisa membaca Alqur’an untuk belajar mengaji pada seorang ustadz yang biasa kami panggil Akang (dalam bahasa sunda berarti Kakak).

Disana aku belajar lebih banyak tentang tauhid, tata cara ibadah, ahlak dll. Biasanya setelah belajar mengkaji, rekan-rekan sebayaku langsung pulang sebelum isya atau setelah isya. Entah kenapa –lupa kenapanya– aku biasanya ikut ngaji bersama kakak-kakak yang lebih senior. Ada banyak hal yang menarik hatiku untuk tetap tinggal hingga mereka semua pulang. Salah satunya adalah kebiasaan Akang yang suka mendongeng. Akang itu kalo mendongeng sambil dipijitin oleh salah satu muridnya :) . Satu dongengnya yang masih terngiang-ngiang di benakku adalah kisah tentang Ashabul Kahfi. Kisah tentang tujuh orang pemuda yang mencintai Allah dan ditidurkan Allah selama beratus tahun didalam gua bersama satu anjing mereka. (Mengenai jumlah ini ada perbedaan pendapat, ada yang mengatakan 6 pemuda plus seekor anjing ada juga yang mengatakan 7 pemuda dengan seekor anjing).

Sayangnya, orang tuaku memindahkanku ke Bogor waktu aku duduk di kelas 5 SD. Maka aku harus rela meninggalkan tempat belajar ngaji yang sekarang sudah menjadi pondok pesantren. Akang sendiri sudah menemui Robb-nya beberapa tahun silam, semoga Allah menerimanya dan menempatkannya disisi-Nya.

Kembali ke belajar ngaji, yang salah satunya adalah belajar membaca Alqur’an. Dulu aku mengira bahwa semua orang islam belajar mengaji dan bisa membaca Alqur’an, karena semua kawan-kawan kecilku bisa. Tapi betapa tercengangnya ketika aku duduk di bangku SMA (sekarang SMU) melihat kenyataan yang menyedihkan. Ternyata banyak diantara rekan-rekan sekelasku dan mungkin sesekolahan yang belum lancar membaca Alqur’an bahkan buta huruf Alqur’an.

Mungkin dari kenyataan yang ada dalam masyarakat Islam bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa membaca Alqur’an, maka kini lahir beberapa metode belajar membaca alqur’an dengan cara yang mudah, simpel dan singkat. Ada metode Iqro, metode An Nur, metode Qiroa’ti dan sebagainya. Tinggal pilih saja. Bahkan beberapa minggu yang lalu saya berkenalan dengan ustadz Umar, beliau menuturkan kisahnya tentang keberhasilannya menemukan metode belajar membaca Alqur’an hanya dalam waktu dua jam, subhanallah.

Jadi sekarang kalau mau belajar mbaca Alqur’an itu mudah, asalkan mau berniat dengan sungguh-sungguh dan melangkahkan kaki untuk mulai belajar.

Mari saudaraku kita belajar ngaji, belajar Alqur’an, pahami maknanya dan kita amalkan isinya. Insya Allah, Allah akan menyelamatkan kita pada hari dimana taka ada satupun yang dapat melindungi kita selain Allah Robbul ‘Alamin. Amin.

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS 65:4)





Jalan Itu

26 09 2007

Bertahan disini
adalah tetap pada harapan yang mungkin semakin bertalu
tapi entah, ada saja hal yang selalu baru
meski hati selalu masygul karena terus begitu
ini adalah satu harapan keinginan
untuk tetap pada jalan yang tak jelas penghujungnya
walau demikian ia adalah satu dari sekian jalan.

Berencana pada satu jalur lain
adalah satu kepastian
ketika saatnya tiba
pada kenyataan yang tak lagi terelakan, pasti
bila tetap di dalamnya
satu angka hari akan memastikannya
walau ’sepertinya’ berhadapan dengan bertumpuk dinding menjulang
bila Yang Empunya menghendaki, semuanya tak berarti.

Hari ini sebuah kepastian yang akan datang
adalah keyakinan dalam diri
memacu semangat dan memompa hasrat,
bismillah…





Darda Avicenna Alhafizy

19 04 2007

Seminggu sudah bayi mungil kami menghuni bumi-Nya. Dari waktu ke waktu, selalu saja ia membuat kami merasa senang. Senyum hampir tak pernah hilang dari rumah mungil 36/84 yang kami tinggali di kawasan Cilebut Bogor. Syukur dan doa insyaAllah selalu beriring bersama beranjaknya waktu. Aqiqah…

Dada Hari Hari Pertama

Ya, waktunya aqiqah berarti juga waktunya aku sebagai bapaknya, ayahnya, ramanya, abahnya, abinya untuk memberinya nama. Nama yang insyaAllah juga menjadi do’a baginya. Maka aku mengajak Allah untuk mengintervensi diriku untuk memberikan nama dan julukan pada buah hati kami. Dan sholat istikhoroh aku dirikan, do’a pun kami panjatkan.

Setahun yang lalu kakek neneknya di Cileungsi bersedia menampung kambing-kambing keluarga kami. Mereka dengan telaten merawatnya. Sepasang domba garut kami titipkan pada mereka, alhamdulillah dari beberapa pasang domba yang kami dan saudara-saudara kami titipkan pada mereka telah beranak pinak. Jadilah dua ekor kambing dari hasil peranakan kambing-kambing itu untuk aqiqah putra putra pertama kami ini. Jadi kami ga perlu repot-repot mencari kambing-kambing jantan yang memenuhi syarat untuk aqiqah.

Dari beberapa opsi akhirnya terpilihlah satu nama dari beberapa kandidat. Darda Avicenna Alhafizy. Ada seorang kawan mengabarkan kepadaku bahwa namanya berat banget katanya. Maka aku mengadu kepada Allah dan istikhoroh lagi dan alhamdulillah, hati menjadi semakin mantap. Nama itu tetap apa adanya dan ditetapkan secara hukum negara dengan akte.

Darda adalah nama seorang sahabat Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam, Abu Darda. Seorang ahli hikmah yang sangat zuhud dan tawadu.

Avicenna adalah nama lain dari Ibnu Sina, seorang ulama besar yang sejak berumur 7 tahun sudah hafiz Alqur’an. Ia di Eropa dikenal dengan nama Avicenna yang hanya seorang pembantu dokter (mantri) tetapi menjadi Bapak Kedokteran karena jasa-jasanya menemukan berbagai cara pengobatan dalam dunia kedokteran.

Alhafizy diambil dari kata hafiz adalah istilah atau gelar yang diberikan kepada mereka yang mampu menghapal Al Qur’an, kitab suci agama Islam.

Ya Allah, kabulkanlah harapan dan do’a kami. Amin.





31 Minggu

23 02 2007

Ya, 31 minggu sudah usia janin anak kami yang pertama.
Hasil buah cinta ini sehat meski beratnya kurang
sedikit untuk janin seumurnya, kata dr. Roslina, SpOG
yang menangani pemeriksaan kandungan istriku sejak ia
dinyatakan positif hamil setelah hampir 1,5 tahun kami
menanti kabar baik ini.

Si Ade, begitu kami memanggil si calon jabang bayi,
terlìhat bergerak-gerak di layar USG. Suara Jantungnya
dak-duk dak-duk dari alat pendengar jantung janin.